+6285161234321

pemdes@gandrungmanis.desa.id

Permohonan Online

Anda dapat mengajukan secara permohonan online

Produk Warga

Jelajahi produk lokal buatan dari para warga kami untuk Anda

Lapor/Aduan/Saran

Anda dapat melaporkan aduan dan memberi saran maupun kritik

Desa Gandrungmanis, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, memiliki tradisi rutinan yasinan yang masih terpelihara hingga saat ini. Yasinan adalah kegiatan membaca surat Yasin dari Al-Qur’an secara bersama-sama, yang biasanya dilakukan oleh umat Muslim.

Di desa ini, yasinan rutinan diadakan setiap Senin siang. Kegiatan ini sudah berlangsung turun-temurun selama puluhan tahun dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat desa.

Biasanya, acara yasinan dimulai sekitar pukul 13.00 WIB. Warga berkumpul di rumah tuan rumah yang bertugas pada minggu itu. Setelah membaca surat Yasin bersama-sama, acara dilanjutkan dengan tahlilan, yaitu membaca kalimat-kalimat pujian kepada Allah SWT.

“Kegiatan yasinan ini sudah menjadi bagian dari kehidupan kami di desa ini. Selain sebagai sarana untuk meningkatkan keimanan, acara ini juga menjadi ajang silaturahmi antar warga,” ujar Bapak Kyai Sugi, salah seorang tokoh masyarakat di Desa Gandrungmanis.

Tidak hanya orang tua, generasi muda di desa ini juga antusias mengikuti kegiatan yasinan. Mereka melihat kegiatan ini sebagai upaya untuk melestarikan tradisi leluhur sekaligus menjalin kebersamaan di tengah masyarakat.

“Kami senang bisa ikut serta dalam acara yasinan ini. Selain menambah pengetahuan agama, kami juga bisa bertemu dan bersilaturahmi dengan warga lain,” ungkap salah seorang pemuda di Desa Gandrungmanis.

Selain rutinan yasinan, warga Desa Gandrungmanis juga memiliki kegiatan keagamaan lainnya, seperti pengajian, peringatan hari besar Islam, dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Semua kegiatan ini turut memperkuat kohesi sosial dan menjaga keutuhan masyarakat desa.

Kegiatan rutinan yasinan di Desa Gandrungmanis merupakan salah satu contoh bagaimana tradisi dan nilai-nilai agama dapat menjadi perekat sosial di tingkat masyarakat lokal. Keberlangsungan tradisi ini diharapkan dapat terus dilestarikan oleh generasi mendatang

Bagikan Berita